Membaca Surat Al-Ponari
UDAH sebulan dukun sakti Ponari buka praktek. Sejak itu pula, sampai sekarang, berbagai pendapat masyarakat mengiringinya. Biasa, tradisi bangsa kita kalau ada isu2 hot, njuk grusa grusu. Dalam kasus ini ada dua model grusa grusunya … ada yang langsung percaya bahwa batu sakti Ponari bisa nyembuhin macam-macam penyakit, sehingga mereka berbondong-bondong naik pick up dari desa untuk mendapat berkah batu Ponari. Ada juga yang seketika apriori, menuding-nuding Ponari sebagai biang kemusyrikan dan harus segera diberantas.
Ribuan orang yang berobat ke Ponari membawa segudang keyakinan bahwa Ponari dan wetu sektinya bisa menyembuhkan penyakit mereka, meski dengan biaya murah. Yang ndak kebagian kobokan Ponari dan batunya, mengambil jalan alternative. Ada yang ngorek-ngorek tanah dekat pembuangan kamar mandi Ponari. Ada juga yang lewat jalur belakang, minta air bekas mandinya Ponari. Mungkin nanti lama-lama ada yang niteni jejak kaki Ponari, lalu mengambil tanah bekas pijakannya itu untuk diraupkan ke muka sebagai media penyembuhan.
Berseberangan dengan itu, banyak juga orang yang menganggap kegiatan tersebut di atas tadi sebagai bentuk syirik. Mereka lalu mendesak pemerintah untuk menutup praktek kerja Ponari. Mereka ini orang-orang dengan kapasitas intelektual tinggi. Perilaku mereka ilmiah, sehingga sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, dianggap salah.
Sebenernya siapa yang salah? Apakah Ponari yang ndak sengaja menemukan batu petir itu? Atau orang-orang yang percaya pada kesaktiannya? Atau mereka yang mengutuknya? Atau media yang jadi tim marketingnya Ponari? Kalau apa yang dilakukan Ponari adalah sebuah dosa, maka siap-siap saja media yang memasarkan produk Ponari ini ke seluruh Indonesia menerima bagian azab di akhirat nanti. Huhuu … raksakno! Rumangsamu penak dadi wartawan? (keluhan orang yang pernah jadi wartawan tapi keluar karena tekanan batin, hihiii).
Saya rasa bukan masalah siapa yang salah dan benar. Melainkan bagaimana kita memandang fenomena Ponari ini dengan mata hati (kamu punya mata hati po, Wan?!). Ya sudah, kalau gak punya mata hati, pakai mata kaki juga gakpapa …
Saya termasuk pihak yang netral, bukan serious ataupun peter pan. Saya ndak menyalahkan orang-orang yang minta kesembuhan dari Ponari. Pun saya ndak memusuhi orang yang dengan niatan amar makruf nahi munkar menuntut praktek Ponari ditutup karena bisa merusak iman masyarakat.
Saya cuma orang ganteng yang lebih suka bertanya pada hati nurani, kenapa Allah menampilkan sosok Ponari dalam episode kehidupan bangsa kita. Mengapa skenarionya, anak desa itu menemukan batu ajaib yang konon bisa menyembuhkan aneka penyakit? Kenapa kemudian banyak orang yang mempercayainya?
Mungkin ponari adalah salah satu surah yang di dalamnya terdapat ayat-ayat Allah yang harus kita baca dengan lebih hati-hati. Al-Ponari ini kayaknya punya makna implisit yang harus digali kalau kita ingin memahaminya. Tentunya saya ndak punya kapasitas untuk urusan gali-menggali itu.
Cuma, kalau boleh (ya bolehlah Wan, orang ini blogmu kok, jadi suka-suka kamu mau nulis apa!) (oh iya ya …) saya mau bilang bahwa kadang-kadang saya merenung sendiri, kalau orang-orang yang percaya sama Ponari dan batu petirnya itu salah, emangnya apa bedanya saya sama mereka?
Kalo kepala saya lagi cekot-cekot, biasanya saya langsung beli Mix*grip di warungnya Om Edbul. Dari dulu saya selalu minum obat itu kalo lagi flu atau sakit kepala. Dan pasti sembuh. Makanya saya percaya tablet Mix*grip itu bisa menyembuhkan penyakit saya. Lalu apa bedanya tablet itu dengan batunya Ponari?
Beda dong Wan, obat itu kan udah diracik oleh tukang-tukang farmasi yang hebat dan diback-up dokter-dokter mantap, jadi bisa dibuktikan secara ilmiah bahwa obat itu bisa menyembuhkan penyakit. Beda dengan batu Ponari yang katanya cuma tersambar petir.
Sebenarnya masalahnya bukan itu. Yang jadi pertanyaan adalah: saat kita minum obat, apa yang ada di hati kita? Apakah “Ya Allah, Anda adalah Maha Penyembuh yang dengan media apapun bisa menyembuhkan penyakit hamba ini. Saya meminum obat ini sebagai ikhtiar hamba dan mempercayakan kesembuhan hanya pada Anda, bukan karena obat yang saya minum ini…” ataukah, “obat ini pasti bisa menyembuhkanku,” atau juga bersugesti “banyak yang cocok sama obat ini, semoga obat ini juga cocok sama aku dan bisa nyembuhin penyakitku.” Lalu dimana Allah kita tempatkan?
Wahh, benar-benar di dalam Al-Ponari ini ada ayat-ayat dahsyat yang menyadarkan saya bahwa selama ini saya juga ndak kalah syiriknya sama mereka yang meminta kesembuhan dari Ponari dan batunya. Karena selama ini saya juga meminta kesembuhan dari dokter dan obat-obatan.
Dan jangan dikira ayat Al-Ponari ini cuma berlaku untuk urusan kesehatan. Soal rezeki, jodoh, nasib, seringkali saya dan mungkin Anda-anda salah menempatkan posisi Allah. Atau bahkan tidak ada Allah sama sekali di dalam mekanisme berpikir kita?
Oleh sebab itu, Bismillahirrohmaniirrohiim … dengan menyebut nama Allah, mari kita baca surah Al-Ponari.
Filed under: Hot News | 4 Comments
Tags: Al-Ponari
Wah, pemikiran kita sama wan, cuman bedanya aku gak punya blog, jd aku gak bisa nulis kayak gini, hehe bravo for your opinion…
To: Abdul Halim
Thanks mas! Makanya bikin blog, biar uneg2 kita keluar, gak mengkristal di dalam … … (sensored)
lah ya.. kita menganggap orang-orang yang jadi pasien Ponari itu adalah aneh.. padahal mereka (pasien-pasien Ponari itu) menganggap kita-kita yang tiap hari buka facebook adalah orang aneh.. tiap hari kok di depan komputer cuma melototin gambar yang sama itu.. lah itu apa ngga aneh?
Numpang Lewat Juragan…mau comment tapi belum baca sampai habis tulisan diatas, keburu mata susah di ajak kompromi ni, sudah 2 malam tak ada tidur nyenyak malah malam sebelumnya semalam suntuk tak ada memejamkan mata..hehe
Besok aja dah ngasih comment tentang tulisan diatas…
regards
awyn_doank