Nagabonar atau Tukul?

01Mar09

KEMARIN pagi saya membaca tulisan menarik di Tribun Kaltim, “PKS Naksir JK”. Sudah tentu urusan yang dibahas di headline itu adalah soal capres pada pemilu april nanti. Dalam politik, hal taksir-menaksir memang biasa. Biasa dan gampang berpaling ke lain body. Bisa jadi hari ini partai ini naksir capres itu, besoknya malah jadian sama capres lain. Ada juga caleg anu awalnya naksir partai situ. Tapi karena dicuekin, dia pdkt dengan partai lain yang dirasa mampu memuaskan libido kekuasaannya.

Media beberapa minggu ke depan masih akan terus sibuk merekam manuper-manuper politik para bakal calon presiden itu. Olok-olokan antara SBY-Mega, kebingungan JK dan Golkar, serangan membabibuta Prabowo, Alon-alon asal kewatonnya Pak Sultan, dan sebagainya.

Buat saya, dan mungkin sebagian besar rakyat Indonesia, atraksi mereka asyik-asyik aja dinikmati. Lucu soalnya. Seolah-olah nasib bangsa ini main-main buat mereka. Jadi, gag perlu mikir pusing-pusing siapa yang jadi teman, karena yang terpenting adalah mencapai tujuan kekuasaan. Bahasa kerennya: Koalisi.

Koalisi itu hukumnya wajib dalam perpolitikan kita sekarang ini. Kalo sebuah partai atau capres tidak melakukan koalisi atau (setidaknya) lobby-lobby menuju koalisi, maka mereka akan dicap eksklusif, tidak modern, berdosa dan akan masuk neraka. Jadi wajarlah, daripada termarginalkan dan masuk neraka, mereka lebih memilih koalisi.

Hakekatnya, ndak ada istilah oposisi di negara kita. Semua partai, caleg, ataupun capres, punya visi misi yang sama. Makanya mereka tak terlalu ambil pusing mau berkoalisi dengan siapa saja. Semua bisa diajak kerjasama. Semua akan bekerja demi rakyat. Jadi wajar saja kalau capres bisa menclok sana-sini. Caleg juga nyante aja mau ikut partai mana. Yang penting maju jadi caleg. Yang lebih penting lagi, dapat kursi setelah pemilu nanti.

Mungkin kelucuan-kelucuan itu yang membuat jenderal besar Nagabonar merasa dirinya harus ambil bagian. Di hari yang sama, saya menonton wawancara di Metro TV, yang dipandu Kania Sutisnawinata yang keibuan itu, dengan Deddy Mizwar (Jenderal Nagabonar) dan Mayjen (Purn) Saurip Kadi. Jadi ceritanya, Bung Deddy alias Nagabonar ini akan mencalonkan diri di pilpres nanti. Deklaratornya adalah Kang Kadi.

Dalam wawancara itu, Nagabonar membawa kitab “Mengutamakan Rakyat” yang akan menjadi landasan kebijakannya jika ia insya Allah terpilih nanti. Tampak sekali dalam wawancara itu, redaksi menginginkan Nagabonar tegas menyatakan kesiapannya menjadi capres.

Tapi dasar jenderal sableng, ia malah cengengesan. Waktu ditanya bagaimana modal kampanyenya, Nagabonar bilang bahwa budaya itu (kampanye dengan modal besar-besaran) harus diubah! Dengan kata lain, dia tidak butuh uang untuk kampanyenya.

Saat wawancara hampir selesai, Kania lagi-lagi menanyakan keseriusan Nagabonar untuk maju sebagai capres pada pilpres nanti. Tapi lagi-lagi juga Sang Jenderal cengengesan. Dia malah menunjuk orang di sebelahnya (Kadi), “Dia saja nanti yang jadi capres!”

Kania terlihat sebal dan mau cepat-cepat menutup sesi wawancara itu, karena mungkin jawaban-jawaban Nagabonar ndak sesuai dengan yang diinginkan redaktur. Tapi buru-buru Nagabonar menambahkan, bahwa tidak penting siapa yang jadi RI-1. Siapapun boleh jadi presiden, asalkan apa yang dilakukannya nanti, benar-benar mengutamakan rakyat. Begitu petuah jenderal.

***

Saya seumur-umur jadi pendukung setia golput. Bapak ibu saya marah-marah dengan keputusan golput saya. Beliau berdua menjudge saya sebagai warga negara yang ndak bertanggungjawab. Dari dulu, hanya satu partai yang pernah saya coblos, tapi sekarang ndak lagi karena gelagatnya partai ku sayang itu terbawa arus. Waktu pilpres dan pilgub pun, saya golput.

Tapi, begitu mendengar wawancara tadi, saya langsung berikrar di depan bapak ibu saya, bahwa kalau benar nanti si nagabonar itu jadi capres, demi Allah saya akan pilih dia. Saya pensiun dari golput.

***

Sebelum-belumnya, teman saya yang alimnya bukan main, ilmu agamanya nglotok, menelepon saya dari Pekalongan. Kami ngobrol ngalor ngidul berbagai topik. Sampai akhirnya, ngomongin pilpres.

Dia membuka wacana gimana kalau presiden Indonesia periode mendatang adalah Tukul Arwahnya atau Olga Syahputri. Dia juga berjanji akan memilih keduanya seandainya mereka benar-benar maju jadi capres.

Lalu saya mikir pake dengkul mlocot, presiden atau pemimpin negara sejatinya adalah representasi dari rakyatnya. Jadi, bener juga yang dibayangkan temen saya tadi. Bukankah demokrasi negara kita ini isinya main-main aja? Amerika yang kurang cerdas itu menilai demokrasi kita berjalan baik dan berkembang pesat. Mereka ndak tau kalo kita cuma main-main dan cengengesan.

Rakyat yang doyan main-main dan cengengesan tentu ndak klop kalau dipimpin orang yang serius yang semua gerak-geriknya diatur protokol (bahkan konon, watuk dan bersinnya pun ditulis di agenda protokoler). Atau oleh ustad yang cakrawala ilmunya mahaluas. Tidak juga oleh pengusaha segala rupa berpenampilan santai yang ceplas-ceplos ngomongnya. Atau mantan jenderal kayaraya yang membagikan duitnya untuk pengelola TV.

Rakyat yang hobi nonton TV dan guyonan ini tentu lebih cocok dipimpin orang yang tipenya juga seperti itu. Olga sebetulnya masuk nominasi, tapi dia bisa tersandung isu gender (masih banyak laki-laki Indonesia yang ndak rela dipimpin perempuan).

Akhirnya, hanya dua kandidat yang sepertinya mumpuni untuk memimpin negeri ini di masa mendatang. Kalau ndak Jenderal Nagabonar, ya Tukul Arwahnya.



6 Responses to “Nagabonar atau Tukul?”

  1. 1 evitri

    kalau gitu aku juga janji ikutan milih deh pemilu nanti, tapi aku ga milih bang naga bonar atau tukul atau sby atau jk atau mega atau calon2 yg lainnya. Aku milih dirumah aja lah nunggu siapa yang kepilih. Ha..ha..ha.. tetep golput aja, males mikir!!

  2. 2 zee

    Ahahahaa… aduh gw td bacanya serius, tp begitu sampe baca soal Olga, jadi ngakak krn terbayang2 wajah Olga yg norce itu…

  3. 3 Rinie

    Hehhehe…. dudulll…

  4. Rakyat Indonesia sendiri udah ndak serius lagi mengenai pemimpinnya.
    Gimana lagi coba… Yang di atas-atas itu juga maen-maen. :(

  5. 5 heri

    yg di pkl tu mas Joko kah Wan..?
    bagusnya indonesia bubar aja… krn paham nasionalisme ciptaan yahudi itu memang ga cocok blass buat orang kita.. :)

  6. assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/17/demokrasi-bukan-jalan-perubahan-hakiki/

    Sudah saatnya kita ganti sistem,
    untuk masa depan umat yang lebih baik!
    semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.