SETAN-SETAN PENGANGGURAN
JAKAR Gedi mengumpat-umpat, suaranya menggelegar, “Manusia bajigur!! Kita benar-benar tak diberi ruang untuk bekerja!”
“Betul, Kar, mereka membuat kita jadi pengangguran,” timpal Wedigod.
Malam itu beberapa setan berkumpul di angkringan Lek Pono. Mereka membicarakan kebrengsekan manusia yang makin hari makin membahayakan eksistensi para setan. Bagaimana tidak? Manusia sekarang ini seperti tak memerlukan bisikan setan untuk bermaksiat dan melakukan kejahatan.
“Lihat saja budakku ini,” telunjuk Jakar yang seperti lidah api mengarah pada pemuda ganteng di sampingnya. Pemuda itu makan tanpa bismillah. Sudah tidak ada lagi Tuhan dalam mekanisme berpikirnya, sehingga ia tak memerlukanNya untuk mengunyah makanan dan menelan sampai perutnya kekenyangan. Jakar Gedi pun ikut menikmati makanan.
Sambil makan, pemuda itu memamerkan sesuatu dari handphone kepada teman di sebelahnya. Mereka cekikikan. Sementara, Jakar, Wedigod, Bastar, Azem, para setan itu, tertawa terbahak-bahak hingga tersedak.
“Nanti aku upload ini ke internet,” ujar sang pemuda pada kawannya.
Jakar dan rekan-rekan sesama setannya seketika terdiam. Istighfar. Mereka sadar bahwa hal itu bukan berita gembira, melainkan indikasi bencana.
“Kalian lihat bukan, tanpa aku bisiki, anak setan ini sudah berniat menyebarkan video esek-esek dengan pacarnya lewat internet!!” pekik Jakar. “Lha, terus kita ngapain?!!” jeritnya frustasi, sambil menghempas tinju ke rombong Lek Pono.
Memang, kabar terhangat di dunia persetanan Indonesia saat ini adalah semakin hebatnya manusia-manusia Indonesia dalam bermaksiat. Orang kaya enggan bersedekah, justru menginjak yang miskin. Yang miskin saling membunuh satu sama lain. Pendidikan dijadikan bisnis an sich. Media menumpulkan otak dan mengumbar syahwat. Orangtua tak lebih bijak daripada anak-anaknya. Pemuda-pemudinya malas berpikir, lebih senang hura-hura. Mahasiswanya enggan mencari ilmu dan membaca karena sudah merasa maha. Para politisi menyikut sana-sini, termasuk rakyat yang diwakilinya. Pemerintah dan pengusaha menyatukan taring, menghisap darah masyarakat.
Hebatnya, itu semua mereka lakukan sendiri, dengan hawa nafsunya. Manusia Indonesia seolah-olah tak membiarkan setan ikut andil dalam dosa mereka. Hal ini membuat para setan ketar-ketir. Anak cucu iblis itu terancam eksistensinya di bumi Indonesia.
Jumlah setan pengangguran meningkat drastis. Perut mereka menggendut. Pekerjaan mereka hanya makan, tidur, buang hajat, dan bersetubuh. Mereka jadi susah jalan. “Kemampuan menjerumuskan” mereka menurun. Keahlian yang tak diasah tentunya lama-lama akan melemah. Setan-setan pengangguran itu seperti mayat hidup saja. Ada, tapi sumbangsihnya dalam menyesatkan manusia tak signifikan untuk menambah kawan di neraka.
Untuk itulah mereka berdiskusi malam ini. Wedigod mengusulkan melaporkan masalah ini pada wakil mereka yang duduk di Dewan Perwakilan Setan Daerah. Tapi Jakar tak setuju. Ia pesimis terhadap wakil rakyatnya. “Mereka itu buta dan tuli, sama seperti wakil-wakilnya manusia! Jadi ngapain kita lapor ke mereka!” tegas Jakar. “Lebih baik kita mengurus visa dan passport untuk pergi ke luar negeri saja!”
Wedigod, Bastar, dan Azem manggut-manggut. Itu ide yang masuk akal. Bukankah di luar negeri sana masih banyak manusia yang bisa dijerumuskan? Konon, menurut para setan yang tinggal di luar negeri, mereka sangat bergairah hidupnya. Penuh tantangan! Orang-orang luar negeri memberikan perlawanan sengit jika digoda. Mereka seperti jenuh pada kesesatan, sehingga sekarang memiliki kecenderungan kembali pada Tuhan. Beda dengan manusia Indonesia yang sedang intim-intimnya bercumbu dengan kegelapan.
“Saya utang dulu ya, Lek!” terdengar pembeli bicara pada Lek Pono. “Bayaran saya belum cair.”
“Iyo, Mas, nyante wae..” Lek Pono tahu pembeli tadi adalah mahasiswa miskin, perantauan yang hidupnya senin kemis.
Beberapa orang datang meramaikan angkringan. Selalu banyak pembeli di angkringan Lek Pono. Mereka datang dan pergi silih berganti. Angkringan itu memang terkenal paling murah di kampung Timuran ini. Lek Pono mengambil keuntungan seperlunya saja. Karena itu, angkringannya selalu ramai (tentu selain karena dia bisa diutangi).
Sementara itu, Jakar dan kawan-kawan setannya masih larut dalam obrolan tadi. Mereka asyik tertawa-tawa membayangkan kehidupan mereka yang lebih baik di luar negeri nanti. Tapi, kesenangan mereka segera buyar. Adzan Isya berkumandang. Para setan menutup kuping kuat-kuat. Berlari, terjun, sembunyi di got. Keringat dingin mengucur deras dari tubuh mereka. Kepala mereka seperti ditusuk-tusuk besi panas. Penderitaan itu berlangsung sampai muadzin selesai berkumandang. Jakar dan kawan-kawan lemas di dalam got. Dengan susah payah mereka bangun dan duduk lagi di angkringan.
Pemuda budak Jakar produsen klip porno tadi tak bergeming mendengar adzan. Ia dan teman-temannya masih asyik makan dan bercanda-canda. Begitu juga para pembeli lainnya. Tak berapa lama, seorang pembeli bangkit hendak melakukan pembayaran. Tapi Lek Pono tak tampak. Akhirnya ia meninggalkan angkringan itu begitu saja.
Jakar dan yang lainnya masih shock gara-gara adzan tadi. Meskipun sudah ratusan tahun mereka akrab dengan nyanyian surga itu, tetap saja mereka terkaget-kaget dan kesakitan saat mendengarnya.
“Ini yang membuat kita sampai sekarang belum terkena obesitas,” kata Azem. Menurutnya, suara adzan mampu membakar semacam lemak sangat banyak di tubuhnya. Lemak yang ia dapat dari bermalas-malasan karena tak ada lagi manusia yang bisa bertarung melawan bisikannya.
Ketiga temannya tersenyum nyinyir mendengar pernyataan tadi. Nafas mereka masih tersengal. Wedigod memegangi dadanya yang mau copot. Bastar menyeruput kopi untuk menenangkan batinnya. Sementara Jakar menyulut sebatang rokok.
Namun, baru mereka hendak tenang sejenak, tiba-tiba datang sesosok setan berhawa menakutkan. Dialah Djan Cok. Auranya membuat setan-setan lain bergidik. Ia sangat berwibawa dan termasuk setan kelas kakap. Ia memang tidak memiliki jabatan struktural di pemerintahan setan. Tapi omongannya selalu didengar pemerintah. Levelnya adalah penasehat. Penasehat spiritual.
“Apa yang kalian kerjakan di sini?” tanya Djan, lirih namun terasa sekali ketegasannya.
“A-anu Pak Djan.. kami sedang istirahat makan malam,” jawab Jakar.
Djan Cok, dengan tatapan matanya yang sangat tajam, memperhatikan perut setan-setan di depannya itu. Ia lalu meludah api. “Mengapa perut kalian bisa buncit seperti itu? Sementara pekerjaan kita menumpuk di sini!!”
Empat sekawan setan hampir terjerembab dari duduknya mendengar suara Djan Cok.
“Ta-t-tapi, bukannya di sini kita bisa santai-santai karena manusianya sudah bisa berinisiatif melakukan dosa tanpa bisikan kita? Tidakkah Pak Djan Cok menyaksikan berita-berita di media?” ujar Jakar memberanikan diri. Suaranya setengah tersangkut di tenggorokan.
“Santai? Kalian bilang santai?!”
Wah, ini pertanda buruk. Jakar dan ketiga temannya makin mengkeret.
“Kalian bodoh! Dungu! Malas! Kalian jangan tertipu oleh manusia Indonesia yang lemah. Mereka memang mayoritas dan selalu muncul ke permukaan sebagai mainstream! Tetapi …” Suara Djan Cok melirih. “Sesungguhnya … masih banyak manusia Indonesia yang kuat imannya dan sulit kita goda!!”
Informasi itu terasa mengagetkan bagi Jakar dan teman-temannya. Kantor statistik mana yang didatangi Djan Cok, sehingga ia bisa menyimpulkan hal itu. Padahal setan se-Indonesia tahu bahwa manusia-manusia Indonesia sekarang sudah bukan lagi lawan yang tangguh. Mereka adalah kawan. Mereka sudah bermetamorfosa menjadi setan. Jadi, manusia Indonesia mana yang dimaksud Djan Cok, yang kuat imannya dan sulit digoda itu?! Tapi, alih-alih mendebat, Jakar dan teman-temannya memilih diam seribu bahasa.
“Kalian jangan hanya terpaku pada manusia-manusia tolol macam mereka!!” Djan Cok menuding pemuda budak Jakar dan pembeli-pembeli lain di angkringan Lek Pono. “Mereka itu sudah lebih setan dari kita, jadi tak perlu kalian berlama-lama di tubuh mereka! Kalian seharusnya lebih lincah mencari mangsa baru. Tapi rupanya, kemapanan telah membuat kalian tak peka! Buta!!”
Jakar dan setan lainnya melongo.
“Tidakkah kalian melihat banyak juga saudara-saudara kita yang sekarat melawan manusia-manusia Indonesia yang tangguh imannya?!” Djan Cok lalu menyebutkan jenis-jenis manusia tadi. Ada pemuda yang sholeh minta ampun, yang mata dan pikirannya selalu menuju Allah. Banyak pula perempuan yang masih setengah mati menjaga aurat dan kesuciannya. Ada juga orang-orang cakap ilmu yang selalu mengikutsertakan Allah dalam aplikasi ilmunya. Guru-guru yang ikhlas, pedagang jujur, pemimpin amanah. Dan masih banyak manusia-manusia level top seperti itu di bumi Indonesia ini.
“Mereka ada di mana-mana. Di Jogja, Jakarta, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Papua, di desa, di kota, di sana, dan di SINI!” Djan Cok menekankan kata terakhirnya.
“Tapi pertanyaan saya, mengapa mereka yang Pak Djan Cok sebutkan itu tak pernah muncul di pemberitaan? Kami jadi tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka,” kata Jakar.
“Itulah tololnya kalian! Kalian termakan pemberitaan media. Orang-orang tadi tidak menarik untuk diberitakan. Mereka tersembunyi. Mereka disembunyikan!!”
“Maksud Pak Djan Cok?” kali ini Wedigod yang memberanikan diri bertanya.
“Orang-orang itu tak pernah dan tak mau dipublikasikan. Mereka tidak dibutuhkan di dunia yang makin kacau ini. Mereka tereliminasi. Tapi, jangan sampai kita lengah!! Karena suatu saat, orang-orang itu akan bersatu dan muncul ke permukaan. Mereka akan memimpin dan menduduki pos-pos penting di kehidupan bangsa Indonesia. Dan saat itu, MAMPUSLAH KITA SEMUA!!” Djan Cok mengakhiri ceramahnya dengan dramatis.
Jakar dan setan-setan lainnya kali ini benar-benar terjungkal dari tempat duduknya. Mereka kaget bukan main. Mereka saling pandang dengan tatapan bodoh. Djan Cok gemas sekali melihat tingkah mereka.
“Otak kosong kalian masih tak paham juga?!!” Djan Cok menghela napas panjang. “Dari tadi aku memperhatikan kalian dari jauh!! Aku bersembunyi dan ketakutan. Baru sekarang aku berani mendekat pada kalian!”
“Kenapa begitu, Pak Djan Cok?” Jakar bertanya dengan nada polos.
“Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Sekarang aku tanya kalian semua! Kemana perginya Pono, si kere penjual angkringan yang makanannya kalian habisi ini?!”
Jakar dan teman-temannya saling melempar pandangan. Namun tak satu pun dari mereka berani berspekulasi menjawab.
Habis sudah kesabaran Djan Cok. “Si Pono itu meninggalkan dagangannya tanpa peduli orang lain mencuri makanan yang dijualnya!!”
“Memangnya dia kemana, Pak Djan Cok?” tanya Wedigod, lebih polos dari Jakar.
Djan Cok mengeluarkan api dari semua lubang di tubuhnya. Ia terbakar emosi menghadapi sekumpulan setan bodoh. Ia menyemburkan api kemana-mana seperti orang kesurupan. “DIA MENINGGALKAN DAGANGANNYA UNTUK SEMBAHYANG DI MESJID, DJIIAAANCOOOOKK!!!”
Filed under: Cerpenku | 1 Comment
kenapa juga gag diikutkan lomba cerpen yang ini hun??lumayan honornya bisa buat..buat….ahay!!bpp sudah menunggu kita tu hun….
hihi….