<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Awan's Blog</title>
	<atom:link href="http://khayalankusaja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://khayalankusaja.wordpress.com</link>
	<description>antara nyata dan taknyata</description>
	<lastBuildDate>Sun, 24 May 2009 04:00:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='khayalankusaja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Awan's Blog</title>
		<link>http://khayalankusaja.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://khayalankusaja.wordpress.com/osd.xml" title="Awan&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://khayalankusaja.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SETAN-SETAN PENGANGGURAN</title>
		<link>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/05/24/setan-setan-pengangguran/</link>
		<comments>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/05/24/setan-setan-pengangguran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 04:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khayalankusaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpenku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khayalankusaja.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[JAKAR Gedi mengumpat-umpat, suaranya menggelegar, “Manusia bajigur!! Kita benar-benar tak diberi ruang untuk bekerja!” “Betul, Kar, mereka membuat kita jadi pengangguran,” timpal Wedigod. Malam itu beberapa setan berkumpul di angkringan Lek Pono. Mereka membicarakan kebrengsekan manusia yang makin hari makin membahayakan eksistensi para setan. Bagaimana tidak? Manusia sekarang ini seperti tak memerlukan bisikan setan untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=65&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKAR</strong> Gedi mengumpat-umpat, suaranya menggelegar, “Manusia bajigur!! Kita benar-benar tak diberi ruang untuk bekerja!”</p>
<p>“Betul, Kar, mereka membuat kita jadi pengangguran,” timpal Wedigod.</p>
<p>Malam itu beberapa setan berkumpul di angkringan Lek Pono. Mereka membicarakan kebrengsekan manusia yang makin hari makin membahayakan eksistensi para setan. Bagaimana tidak? Manusia sekarang ini seperti tak memerlukan bisikan setan untuk bermaksiat dan melakukan kejahatan.</p>
<p><span id="more-65"></span></p>
<p>“Lihat saja budakku ini,” telunjuk Jakar yang seperti lidah api mengarah pada pemuda ganteng di sampingnya. Pemuda itu makan tanpa bismillah. Sudah tidak ada lagi Tuhan dalam mekanisme berpikirnya, sehingga ia tak memerlukanNya untuk mengunyah makanan dan menelan sampai perutnya kekenyangan. Jakar Gedi pun ikut menikmati makanan.</p>
<p>Sambil makan, pemuda itu memamerkan sesuatu dari handphone kepada teman di sebelahnya. Mereka cekikikan. Sementara, Jakar, Wedigod, Bastar, Azem, para setan itu, tertawa terbahak-bahak hingga tersedak.</p>
<p>“Nanti aku upload ini ke internet,” ujar sang pemuda pada kawannya.</p>
<p>Jakar dan rekan-rekan sesama setannya seketika terdiam. Istighfar. Mereka sadar bahwa hal itu bukan berita gembira, melainkan indikasi bencana.</p>
<p>“Kalian lihat bukan, tanpa aku bisiki, anak setan ini sudah berniat menyebarkan video esek-esek dengan pacarnya lewat  internet!!” pekik Jakar. “Lha, terus kita ngapain?!!” jeritnya frustasi, sambil menghempas tinju ke rombong Lek Pono.</p>
<p>Memang, kabar terhangat di dunia persetanan Indonesia saat ini adalah semakin hebatnya manusia-manusia Indonesia dalam bermaksiat. Orang kaya enggan bersedekah, justru menginjak yang miskin. Yang miskin saling membunuh satu sama lain. Pendidikan dijadikan bisnis an sich. Media menumpulkan otak dan mengumbar syahwat. Orangtua tak lebih bijak daripada anak-anaknya. Pemuda-pemudinya malas berpikir, lebih senang hura-hura. Mahasiswanya enggan mencari ilmu dan membaca karena sudah merasa maha. Para politisi menyikut sana-sini, termasuk rakyat yang diwakilinya. Pemerintah dan pengusaha menyatukan taring, menghisap darah masyarakat.</p>
<p>Hebatnya, itu semua mereka lakukan sendiri, dengan hawa nafsunya. Manusia Indonesia seolah-olah tak membiarkan setan ikut andil dalam dosa mereka. Hal ini membuat para setan ketar-ketir. Anak cucu iblis itu terancam eksistensinya di bumi Indonesia.</p>
<p>Jumlah setan pengangguran meningkat drastis. Perut mereka menggendut. Pekerjaan mereka hanya makan, tidur, buang hajat, dan bersetubuh. Mereka jadi susah jalan. “Kemampuan menjerumuskan” mereka menurun. Keahlian yang tak diasah tentunya lama-lama akan melemah. Setan-setan pengangguran itu seperti mayat hidup saja. Ada, tapi sumbangsihnya dalam menyesatkan manusia tak signifikan untuk menambah kawan di neraka.</p>
<p>Untuk itulah mereka berdiskusi malam ini. Wedigod mengusulkan melaporkan masalah ini pada wakil mereka yang duduk di Dewan Perwakilan Setan Daerah. Tapi Jakar tak setuju. Ia pesimis terhadap wakil rakyatnya. “Mereka itu buta dan tuli, sama seperti wakil-wakilnya manusia! Jadi ngapain kita lapor ke mereka!” tegas Jakar. “Lebih baik kita mengurus visa dan passport untuk pergi ke luar negeri saja!”</p>
<p>Wedigod, Bastar, dan Azem manggut-manggut. Itu ide yang masuk akal. Bukankah di luar negeri sana masih banyak manusia yang bisa dijerumuskan? Konon, menurut para setan yang tinggal di luar negeri, mereka sangat bergairah hidupnya. Penuh tantangan! Orang-orang luar negeri memberikan perlawanan sengit jika digoda. Mereka seperti jenuh pada kesesatan, sehingga sekarang memiliki kecenderungan kembali pada Tuhan. Beda dengan manusia Indonesia yang sedang intim-intimnya bercumbu dengan kegelapan.</p>
<p>“Saya utang dulu ya, Lek!” terdengar pembeli bicara pada Lek Pono. “Bayaran saya belum cair.”</p>
<p>“Iyo, Mas, nyante wae..” Lek Pono tahu pembeli tadi adalah mahasiswa miskin, perantauan yang hidupnya senin kemis.</p>
<p>Beberapa orang datang meramaikan angkringan. Selalu banyak pembeli di angkringan Lek Pono. Mereka datang dan pergi silih berganti. Angkringan itu memang terkenal paling murah di kampung Timuran ini. Lek Pono mengambil keuntungan seperlunya saja. Karena itu, angkringannya selalu ramai (tentu selain karena dia bisa diutangi).</p>
<p>Sementara itu, Jakar dan kawan-kawan setannya masih larut dalam obrolan tadi. Mereka asyik tertawa-tawa membayangkan kehidupan mereka yang lebih baik di luar negeri nanti. Tapi, kesenangan mereka segera buyar. Adzan Isya berkumandang. Para setan menutup kuping kuat-kuat. Berlari, terjun, sembunyi di got. Keringat dingin mengucur deras dari tubuh mereka. Kepala mereka seperti ditusuk-tusuk besi panas. Penderitaan itu berlangsung sampai muadzin selesai berkumandang. Jakar dan kawan-kawan lemas di dalam got. Dengan susah payah mereka bangun dan duduk lagi di angkringan.</p>
<p>Pemuda budak Jakar produsen klip porno tadi tak bergeming mendengar adzan. Ia dan teman-temannya masih asyik makan dan bercanda-canda. Begitu juga para pembeli lainnya. Tak berapa lama, seorang pembeli bangkit hendak melakukan pembayaran. Tapi Lek Pono tak tampak. Akhirnya ia meninggalkan angkringan itu begitu saja.</p>
<p>Jakar dan yang lainnya masih shock gara-gara adzan tadi. Meskipun sudah ratusan tahun mereka akrab dengan nyanyian surga itu, tetap saja mereka terkaget-kaget dan kesakitan saat mendengarnya.</p>
<p>“Ini yang membuat kita sampai sekarang belum terkena obesitas,” kata Azem. Menurutnya, suara adzan mampu membakar semacam lemak sangat banyak di tubuhnya. Lemak yang ia dapat dari bermalas-malasan karena tak ada lagi manusia yang bisa bertarung melawan bisikannya.</p>
<p>Ketiga temannya tersenyum nyinyir mendengar pernyataan tadi. Nafas mereka masih tersengal. Wedigod memegangi dadanya yang mau copot. Bastar menyeruput kopi untuk menenangkan batinnya. Sementara Jakar menyulut sebatang rokok.</p>
<p>Namun, baru mereka hendak tenang sejenak, tiba-tiba datang sesosok setan berhawa menakutkan. Dialah Djan Cok. Auranya membuat setan-setan lain bergidik. Ia sangat berwibawa dan termasuk setan kelas kakap. Ia memang tidak memiliki jabatan struktural di pemerintahan setan. Tapi omongannya selalu didengar pemerintah. Levelnya adalah penasehat. Penasehat spiritual.</p>
<p>“Apa yang kalian kerjakan di sini?” tanya Djan, lirih namun terasa sekali ketegasannya.</p>
<p>“A-anu Pak Djan.. kami sedang istirahat makan malam,” jawab Jakar.</p>
<p>Djan Cok, dengan tatapan matanya yang sangat tajam, memperhatikan perut setan-setan di depannya itu. Ia lalu meludah api. “Mengapa perut kalian bisa buncit seperti itu? Sementara pekerjaan kita menumpuk di sini!!”</p>
<p>Empat sekawan setan hampir terjerembab dari duduknya mendengar suara Djan Cok.</p>
<p>“Ta-t-tapi, bukannya di sini kita bisa santai-santai karena manusianya sudah bisa berinisiatif melakukan dosa tanpa bisikan kita? Tidakkah Pak Djan Cok menyaksikan berita-berita di media?” ujar Jakar memberanikan diri. Suaranya setengah tersangkut di tenggorokan.</p>
<p>“Santai? Kalian bilang santai?!”</p>
<p>Wah, ini pertanda buruk. Jakar dan ketiga temannya makin mengkeret.</p>
<p>“Kalian bodoh! Dungu! Malas! Kalian jangan tertipu oleh manusia Indonesia yang lemah. Mereka memang mayoritas dan selalu muncul ke permukaan sebagai mainstream! Tetapi …” Suara Djan Cok melirih. “Sesungguhnya &#8230; masih banyak manusia Indonesia yang kuat imannya dan sulit kita goda!!”</p>
<p>Informasi itu terasa mengagetkan bagi Jakar dan teman-temannya. Kantor statistik mana yang didatangi Djan Cok, sehingga ia bisa menyimpulkan hal itu. Padahal setan se-Indonesia tahu bahwa manusia-manusia Indonesia sekarang sudah bukan lagi lawan yang tangguh. Mereka adalah kawan. Mereka sudah bermetamorfosa menjadi setan. Jadi, manusia Indonesia mana yang dimaksud Djan Cok, yang kuat imannya dan sulit digoda itu?! Tapi, alih-alih mendebat, Jakar dan teman-temannya memilih diam seribu bahasa.</p>
<p>“Kalian jangan hanya terpaku pada manusia-manusia tolol macam mereka!!” Djan Cok menuding pemuda budak Jakar dan pembeli-pembeli lain di angkringan Lek Pono. “Mereka itu sudah lebih setan dari kita, jadi tak perlu kalian berlama-lama di tubuh mereka! Kalian seharusnya lebih lincah mencari mangsa baru. Tapi rupanya, kemapanan telah membuat kalian tak peka! Buta!!”</p>
<p>Jakar dan setan lainnya melongo.</p>
<p>“Tidakkah kalian melihat banyak juga saudara-saudara kita yang sekarat melawan manusia-manusia Indonesia yang tangguh imannya?!” Djan Cok lalu menyebutkan jenis-jenis manusia tadi. Ada pemuda yang sholeh minta ampun, yang mata dan pikirannya selalu menuju Allah. Banyak pula perempuan yang masih setengah mati menjaga aurat dan kesuciannya. Ada juga orang-orang cakap ilmu yang selalu mengikutsertakan Allah dalam aplikasi ilmunya. Guru-guru yang ikhlas, pedagang jujur, pemimpin amanah. Dan masih banyak manusia-manusia level top seperti itu di bumi Indonesia ini.</p>
<p>“Mereka ada di mana-mana. Di Jogja, Jakarta, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Papua, di desa, di kota, di sana, dan di SINI!” Djan Cok menekankan kata terakhirnya.</p>
<p>“Tapi pertanyaan saya, mengapa mereka yang Pak Djan Cok sebutkan itu tak pernah muncul di pemberitaan? Kami jadi tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka,” kata Jakar.</p>
<p>“Itulah tololnya kalian! Kalian termakan pemberitaan media. Orang-orang tadi tidak menarik untuk diberitakan. Mereka tersembunyi. Mereka disembunyikan!!”</p>
<p>“Maksud Pak Djan Cok?” kali ini Wedigod yang memberanikan diri bertanya.</p>
<p>“Orang-orang itu tak pernah dan tak mau dipublikasikan. Mereka tidak dibutuhkan di dunia yang makin kacau ini. Mereka tereliminasi. Tapi, jangan sampai kita lengah!! Karena suatu saat, orang-orang itu akan bersatu dan muncul ke permukaan. Mereka akan memimpin dan menduduki pos-pos penting di kehidupan bangsa Indonesia. Dan saat itu, MAMPUSLAH KITA SEMUA!!” Djan Cok mengakhiri ceramahnya dengan dramatis.</p>
<p>Jakar dan setan-setan lainnya kali ini benar-benar terjungkal dari tempat duduknya. Mereka kaget bukan main. Mereka saling pandang dengan tatapan bodoh. Djan Cok gemas sekali melihat tingkah mereka.</p>
<p>“Otak kosong kalian masih tak paham juga?!!” Djan Cok menghela napas panjang. “Dari tadi aku memperhatikan kalian dari jauh!! Aku bersembunyi dan ketakutan. Baru sekarang aku berani mendekat pada kalian!”</p>
<p>“Kenapa begitu, Pak Djan Cok?” Jakar bertanya dengan nada polos.</p>
<p>“Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Sekarang aku tanya kalian semua! Kemana perginya Pono, si kere penjual angkringan yang makanannya kalian habisi ini?!”</p>
<p>Jakar dan teman-temannya saling melempar pandangan. Namun tak satu pun dari mereka berani berspekulasi menjawab.</p>
<p>Habis sudah kesabaran Djan Cok. “Si Pono itu meninggalkan dagangannya tanpa peduli orang lain mencuri makanan yang dijualnya!!”</p>
<p>“Memangnya dia kemana, Pak Djan Cok?” tanya Wedigod, lebih polos dari Jakar.</p>
<p>Djan Cok mengeluarkan api dari semua lubang di tubuhnya. Ia terbakar emosi menghadapi sekumpulan setan bodoh. Ia menyemburkan api kemana-mana seperti orang kesurupan. “DIA MENINGGALKAN DAGANGANNYA UNTUK SEMBAHYANG DI MESJID, DJIIAAANCOOOOKK!!!”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khayalankusaja.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khayalankusaja.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khayalankusaja.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khayalankusaja.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khayalankusaja.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khayalankusaja.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khayalankusaja.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khayalankusaja.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khayalankusaja.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khayalankusaja.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khayalankusaja.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khayalankusaja.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khayalankusaja.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khayalankusaja.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=65&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/05/24/setan-setan-pengangguran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98b915f2f73ed78a3678bc53c69dc0f2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khayalankusaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lubang di Hati</title>
		<link>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/03/11/lubang-di-hati/</link>
		<comments>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/03/11/lubang-di-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 02:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khayalankusaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<category><![CDATA[Letto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khayalankusaja.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Ku buka mata dan ku lihat dunia // T&#8217;lah kuterima anugerah cintanya Setiap pagi saya bangun tidur, dengan mata yang terbuka (yaiyalaaahh!!) kriyep-kriyep (bahasa planet mana itu “kriyep-kriyep”??!) melihat PC yang duduk malas di atas meja. Mencium aroma iler di bantal. Tapi saya ndak pernah ingat bahwa itu adalah anugerah cintanya. Saya dengan sombongnya melihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=58&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false          MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Ku buka mata dan ku lihat dunia // T&#8217;lah kuterima anugerah cintanya</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setiap pagi saya bangun tidur, dengan mata yang terbuka (yaiyalaaahh!!) <em>kriyep-kriyep</em> (bahasa planet mana itu “kriyep-kriyep”??!) melihat PC yang duduk malas di atas meja. Mencium aroma iler di bantal. Tapi saya ndak pernah ingat bahwa itu adalah anugerah cintanya. Saya dengan sombongnya melihat itu semua sebagai kejadian alam yang biasa. Saya ndak pernah mikir seandainya pas bangun tidur, mata saya ndak bisa melek. Ndak bisa ngeliatin komputer di dekat ranjang. Ndak bisa liat apa-apa. Ndak bisa nyium bau iler saya yang membangkitkan selera.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-58"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Tak pernah aku menyesali yang kupunya // Tapi kusadari ada lubang dalam hati</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pernah gag Anda merasa malas mengerjakan apapun juga? Atau merasa ndak punya motivasi untuk berbuat apapun saja? Saya sering tuh begitu … Maunya cuma matusing (mangan, turu, ng*sing &lt;bukan nyanyi lho ya!!&gt;)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sesungguhnya saya sangat mensyukuri apa saja yang diberikan Allah pada saya. Wajah yang lumayan ganteng ini. Otak yang lumayan tokcer ini. Bodi yang lumayan tipis ini. Duit yang lumayanlah daripada ndak punya sama sekali ini. Apa lagi coba yang kurang?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi ya itu, seringkali saya ngerasa ada yang kosong di jiwa. Ada ruang hampa. Ada lubang di hati. Pokoknya ndak enak banget rasanya. Anda pernah masuk angin? Nah, itu kan ada ruang hampa di badan Anda. Karena kosong, berlubang, maka anginlah yang ngisi. Ndak enak tho rasanya? Apalagi kalau hati yang berlubang dan kosong.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini // Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya nih kadang malas berpikir lebih dalam tentang hati yang berlubang. Kadang-kadang, penyebabnya justru karena saya ndak sadar hati saya berlubang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pun kalo saya sadar tentang hal itu, seringkali saya mencari jawaban dari sumber lain. Kadang pergi ke tempat karokean, menghabiskan waktu berjam2 disana, atau jalan dengan teman/pacar, atau cari kesenangan-kesenangan lain. Bahasa kapitalisnya: rekreasi, refreshing, hang out.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Padahal, jawaban paling akurat tentu saja kalau saya bertanya pada hati sendiri. <em>“Sakjane karepmu ki opo, Ti Ti??”</em> Sebenarnya maumu itu apa, duhai hati?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Apakah itu kamu apakah itu dia // Selama ini ku cari tanpa henti // Apakah itu cinta apakah itu cita // Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apakah maumu itu duit? Perempuan? Kerjaan? Cinta? Kamu ngerti po tentang cinta, Wan? Cita? Kamu punya cita-cita?! Perasaan dulu cita-cita saya adalah tak ingin beranjak dewasa. Ayo Wan, cari terus <em>sumpel</em> yang bisa menutupi lubang hatimu! Cari di mall, cari di took buku, cari di tempat kerja, cari di facebook, cari di mesjid, cari di hatimu sendiri!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Ku mengira hanya dialah obatnya // Tapi ku sadari bukan itu yang kucari // Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan // Dan ku yakin kau tak ingin aku berhenti</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk berbuat benar, kadang-kadang orang harus melakukan ribuan kesalahan dulu. Saya dan Anda mungkin mengira sudah menemukan, mengidentifikasi, dan mendapatkan solusi atas lubang di hati. Tapi apa benar kita sudah menemukannya? GR sekali kita..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perjalanan masih jauh, Wan.. cari terus jawaban atas pertanyaanmu.. konsultasikan dengan hatimu, potongan-potongan jawaban di setiap perjalanan pencarianmu. Melelahkan memang, tapi Dia yang maha memantaumu pastinya tak ingin kau berhenti setelah melihat perjalananmu yang cukup jauh … Dia tak ingin kau sia-sia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khayalankusaja.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khayalankusaja.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khayalankusaja.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khayalankusaja.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khayalankusaja.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khayalankusaja.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khayalankusaja.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khayalankusaja.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khayalankusaja.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khayalankusaja.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khayalankusaja.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khayalankusaja.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khayalankusaja.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khayalankusaja.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=58&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/03/11/lubang-di-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98b915f2f73ed78a3678bc53c69dc0f2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khayalankusaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesta Pemimpin 2009</title>
		<link>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/03/11/pesta-pemimpin-2009/</link>
		<comments>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/03/11/pesta-pemimpin-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 00:15:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khayalankusaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khayalankusaja.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Puji Tuhan aku ditakdirkan jadi rakyat Indonesia. Sedap nian dipresideni Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Bu Mega, dan Pak Sus. Aku syukuri dan nikmati sedap yang itu ataupun sedap yang lain dari Ratna Sarumpaet, Rizal Mallarangeng, Sultan HB X, Fajrul Rahman, Wiranto, Marwah Daud, Prabowo, Sutiyoso, dan sekian lagi… wahai Tuhan, panjangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=54&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puji Tuhan aku ditakdirkan jadi rakyat Indonesia. Sedap nian dipresideni Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Bu Mega, dan Pak Sus. Aku syukuri dan nikmati sedap yang itu ataupun sedap yang lain dari Ratna Sarumpaet, Rizal Mallarangeng, Sultan HB X, Fajrul Rahman, Wiranto, Marwah Daud, Prabowo, Sutiyoso, dan sekian lagi… wahai Tuhan, panjangkan umurku agar kualami sedapnya menjadi rakyat beliau-beliau secara bergiliran.</p>
<p><span id="more-54"></span>Kita memiliki stok pemimpin yang berlimpah-limpah. Jumlah di atas 30 kontestan Pemilu 2009 mencerminkan betapa banyak dan canggih mesin kepemimpinan yang kita miliki.</p>
<p>Sudah enam presiden memberiku kenikmatan, dengan keistimewaan, kewibawaan, dan keunikannya masing-masing. Tentu saja juga dengan satu-dua kekurangan, tapi tidak terlalu signifikan.  Dan rasanya, 2009 mempersembahkan kepada kita sedap yang lain lagi dari pemimpin baru. Kalaupun umpama tetap yang lama, pasti terasa baru: bagaikan Idul Fitri, baju boleh yang itu-itu juga, tapi pandangan kita terhadap baju itu &#8220;refreshed&#8221;.</p>
<p>Kita pernah punya pemimpin yang sejak masa kanak-kanak mengalami pengasingan di sebuah dusun pelosok di dekat perbukitan. Ia menggembalakan kambing, tanpa teman-temannya sesama penyabit rumput pernah mengerti siapa dia dan dari mana asal usulnya, sampai kelak ia tampil sebagai orang nomor satu.</p>
<p>Dengan sabit (arit, celurit) di tangannya, sudah tampak bakatnya sebagai strategi ulung. Hampir tak pernah ia menyabit rumput, karena tiap hari ia nantang teman-temannya untuk lempar tepat sabit di batang pohon. Siapa yang lemparannya paling akurat mendekati titik sasaran mendapat bagian seperempat rumput hasil ngarit setiap peserta kontes. Dan ia tak pernah kalah. Selalu pulang ke kambingnya membawa rumput tanpa capek-capek menyabit.</p>
<p>Menjelang usia remaja, ia pindah wilayah dan kerja di kantor semacam bank pengkreditan untuk rakyat. Kemudian ia belajar berbaris dan menembak. Tetapi ilmu utamanya untuk menjadi pemimpin bukan dari sekolah dan pengalaman kerja, melainkan dari pencerapan ilmu nenek moyangnya. Yakni &#8220;Ilmu Katuranggan&#8221;, metode untuk mengenali, mengidentifikasi, menyelami, memetakan, dan memolakan watak-watak manusia. Digabung dengan “Ilmu Pranotomongso”, pandangan dan analisis tentang musim, segala macam musim yang berlaku dalam kehidupan alam dan manusia. Ia memimpin negara seperti pawang pengendali hujan, pengatur kemarau, penjinak angin, dingin, dan panas, siang dan malam.</p>
<p>Itu sekadar snapshot kebesaran salah satu pemimpin kita. Enam buku emas tebal untuk enam pemimpin tertinggi. Aku mencintai mereka semua. Semua rakyat pun mencintai mereka, dengan macam-macam cara. Ada yang memakai idiom gelas.</p>
<p>Ada pemimpin gelasnya tak pernah kosong, meskipun selalu dituang-tuangkan menjadi gagasan besar, mimpi besar, dan pernyataan besar yang membahana ke seantero bumi. Ada pemimpin yang gelasnya juga penuh, tapi dijaga jangan sampai tumpah: gelas itu kalau ditambahi air akan tumpah, kalau diambil bisa mengurangi citra kepenuhannya.  Ada lainnya yang gelasnya baru diminum sedikit: mendadak hilang gelas itu. Lainnya lagi gelasnya bolong, saking jujur dan ikhlasnya, sehingga minuman apa pun dan seberapa pun saja dituangkan ke dalamnya akan langsung habis karena bolong bawahnya.</p>
<p>Sementara itu, ada yang sampai akhir kepemimpinannya tak ketahuan gelasnya: bukan karena beliau tak mengerti gelas itu apa, melainkan karena sangat ketat menyembunyikan gelasnya.  Mahakaya Tuhan dengan ragam rupa ciptaannya.</p>
<p>Ada sebagian rakyat yang mencari watak pemimpinnya melalui cara mengidentifikasi mereka dengan para pemimpin lama: Majapahit, Demak, Khalifah Empat, para rasul dan nabi, atau mengambil simbolisme dari dunia pewayangan dengan menyebut tokoh macam-macam: Bima, Arjuna, Gareng, Bagong, Limbuk, raksasa Kumbokarno, dan sebagainya.  Semuanya itu figur baik. Bima jujur gagah perkasa. Arjuna sakti pendiam, Gareng filsuf guru bangsa, Limbuk pengabdi yang setia tapi kritis, Kumbokarno raksasa besar pencinta dan pembela tanah air.</p>
<p>Ada yang melalui jurusan Joyoboyo Syekh Ali Syamsu Zen hingga Ronggowarsito: pemimpin 2009 ini mesti dihitung berdasarkan parameter kualitas “satrio pinandhito sinisihan wahyu”.  Yang memimpin sekarang adalah Satrio Pambuko Gerbang, pembuka paradigma perubahan ke arah zaman baru. Sesudah itu, pemimpin sejati muncul dengan tiga syarat berkualitas tinggi. Ia harus &#8220;satrio&#8221;: cakap, ulet, pejuang, prigel, profesional, menguasai multi-masalah, manajer pembangunan, dan panglima solusi. Tapi sekaligus harus lebih tinggi dari itu: &#8220;pinandhito&#8221;, tak terpesona oleh harta dan kedudukan, filosofi hidupnya matang mendalam, punya &#8220;wisdom&#8221;, arif dan adil dalam kehidupan nyata, &#8220;spiritually grounded&#8221;, berkadar pemimpin rohani, kaliber &#8220;begawan&#8221; atau &#8220;panembahan&#8221;.</p>
<p>Itu belum cukup. Ia harus &#8220;sinisihan wahyu&#8221;. Harus tampak indikator bahwa Tuhan turut aktif dalam Pemilu 2009, terlibat mempengaruhi aspirasi konstituen, ikut memilih presiden sehingga tak mungkin pilihan Tuhan dikalahkan. Dalam pandanganku, semua yang tampil dalam kontes pemimpin 2009 memenuhi syarat Pak Ronggo itu, tinggal Tuhan mempergilirkan siapa duluan. Syukur-syukur Tuhan kali ini tidak membiarkan rakyat Indonesia memilih pemimpinnya tanpa &#8220;informasi&#8221; dari-Nya.</p>
<p>Oleh: Emha Ainun Nadjib</p>
<p>GATRA/Nomor 8/Kamis, 1 Januari 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khayalankusaja.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khayalankusaja.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khayalankusaja.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khayalankusaja.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khayalankusaja.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khayalankusaja.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khayalankusaja.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khayalankusaja.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khayalankusaja.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khayalankusaja.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khayalankusaja.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khayalankusaja.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khayalankusaja.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khayalankusaja.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=54&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/03/11/pesta-pemimpin-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98b915f2f73ed78a3678bc53c69dc0f2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khayalankusaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nagabonar atau Tukul?</title>
		<link>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/03/01/nagabonar-atau-tukul/</link>
		<comments>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/03/01/nagabonar-atau-tukul/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 16:31:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khayalankusaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[Nagabonar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khayalankusaja.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[KEMARIN pagi saya membaca tulisan menarik di Tribun Kaltim, “PKS Naksir JK”. Sudah tentu urusan yang dibahas di headline itu adalah soal capres pada pemilu april nanti. Dalam politik, hal taksir-menaksir memang biasa. Biasa dan gampang berpaling ke lain body. Bisa jadi hari ini partai ini naksir capres itu, besoknya malah jadian sama capres lain. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=48&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false          MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:SimSun; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-alt:宋体; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;} @font-face 	{font-family:"\@SimSun"; 	panose-1:2 1 6 0 3 1 1 1 1 1; 	mso-font-charset:134; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 135135232 16 0 262145 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:SimSun;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">KEMARIN pagi saya membaca tulisan menarik di Tribun Kaltim, “PKS Naksir JK”. Sudah tentu urusan yang dibahas di headline itu adalah soal capres pada pemilu april nanti. Dalam politik, hal taksir-menaksir memang biasa. Biasa dan gampang berpaling ke lain body. Bisa jadi hari ini partai ini naksir capres itu, besoknya malah jadian sama capres lain. Ada juga caleg anu awalnya naksir partai situ. Tapi karena dicuekin, dia pdkt dengan partai lain yang dirasa mampu memuaskan libido kekuasaannya.</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-48"></span>Media beberapa minggu ke depan masih akan terus sibuk merekam manuper-manuper politik para bakal calon presiden itu. Olok-olokan antara SBY-Mega, kebingungan JK dan Golkar, serangan membabibuta Prabowo, Alon-alon asal kewatonnya Pak Sultan, dan sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Buat saya, dan mungkin sebagian besar rakyat Indonesia, atraksi mereka asyik-asyik aja dinikmati. Lucu soalnya. Seolah-olah nasib bangsa ini main-main buat mereka. Jadi, gag perlu mikir pusing-pusing siapa yang jadi teman, karena yang terpenting adalah mencapai tujuan kekuasaan. Bahasa kerennya: Koalisi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Koalisi itu hukumnya wajib dalam perpolitikan kita sekarang ini. Kalo sebuah partai atau capres tidak melakukan koalisi atau (setidaknya) lobby-lobby menuju koalisi, maka mereka akan dicap eksklusif, tidak modern, berdosa dan akan masuk neraka. Jadi wajarlah, daripada termarginalkan dan masuk neraka, mereka lebih memilih koalisi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hakekatnya, ndak ada istilah oposisi di negara kita. Semua partai, caleg, ataupun capres, punya visi misi yang sama. Makanya mereka tak terlalu ambil pusing mau berkoalisi dengan siapa saja. Semua bisa diajak kerjasama. Semua akan bekerja demi rakyat. Jadi wajar saja kalau capres bisa menclok sana-sini. Caleg juga nyante aja mau ikut partai mana. Yang penting maju jadi caleg. Yang lebih penting lagi, dapat kursi setelah pemilu nanti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mungkin kelucuan-kelucuan itu yang membuat jenderal besar Nagabonar merasa dirinya harus ambil bagian. Di hari yang sama, saya menonton wawancara di Metro TV, yang dipandu Kania Sutisnawinata yang keibuan itu, dengan Deddy Mizwar (Jenderal Nagabonar) dan Mayjen (Purn) Saurip Kadi. Jadi ceritanya, Bung Deddy alias Nagabonar ini akan mencalonkan diri di pilpres nanti. Deklaratornya adalah Kang Kadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam wawancara itu, Nagabonar membawa kitab “<a href="http://www.mengutamakanrakyat.org" target="_self">Mengutamakan Rakyat</a>” yang akan menjadi landasan kebijakannya jika ia insya Allah terpilih nanti. Tampak sekali dalam wawancara itu, redaksi menginginkan Nagabonar tegas menyatakan kesiapannya menjadi capres.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi dasar jenderal sableng, ia malah cengengesan. Waktu ditanya bagaimana modal kampanyenya, Nagabonar bilang bahwa budaya itu (kampanye dengan modal besar-besaran) harus diubah! Dengan kata lain, dia tidak butuh uang untuk kampanyenya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saat wawancara hampir selesai, Kania lagi-lagi menanyakan keseriusan Nagabonar untuk maju sebagai capres pada pilpres nanti. Tapi lagi-lagi juga Sang Jenderal cengengesan. Dia malah menunjuk orang di sebelahnya (Kadi), “Dia saja nanti yang jadi capres!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kania terlihat sebal dan mau cepat-cepat menutup sesi wawancara itu, karena mungkin jawaban-jawaban Nagabonar ndak sesuai dengan yang diinginkan redaktur. Tapi buru-buru Nagabonar menambahkan, bahwa tidak penting siapa yang jadi RI-1. Siapapun boleh jadi presiden, asalkan apa yang dilakukannya nanti, benar-benar mengutamakan rakyat. Begitu petuah jenderal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya seumur-umur jadi pendukung setia golput. Bapak ibu saya marah-marah dengan keputusan golput saya. Beliau berdua menjudge saya sebagai warga negara yang ndak bertanggungjawab. Dari dulu, hanya satu partai yang pernah saya coblos, tapi sekarang ndak lagi karena gelagatnya partai ku sayang itu terbawa arus. Waktu pilpres dan pilgub pun, saya golput.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi, begitu mendengar wawancara tadi, saya langsung berikrar di depan bapak ibu saya, bahwa kalau benar nanti si nagabonar itu jadi capres, demi Allah saya akan pilih dia. Saya pensiun dari golput.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebelum-belumnya, teman saya yang alimnya bukan main, ilmu agamanya nglotok, menelepon saya dari Pekalongan. Kami ngobrol ngalor ngidul berbagai topik. Sampai akhirnya, ngomongin pilpres.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dia membuka wacana gimana kalau presiden Indonesia periode mendatang adalah Tukul Arwahnya atau Olga Syahputri. Dia juga berjanji akan memilih keduanya seandainya mereka benar-benar maju jadi capres.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lalu saya mikir pake dengkul mlocot, presiden atau pemimpin negara sejatinya adalah representasi dari rakyatnya. Jadi, bener juga yang dibayangkan temen saya tadi. Bukankah demokrasi negara kita ini isinya main-main aja? Amerika yang kurang cerdas itu menilai demokrasi kita berjalan baik dan berkembang pesat. Mereka ndak tau kalo kita cuma main-main dan cengengesan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Rakyat yang doyan main-main dan cengengesan tentu ndak klop kalau dipimpin orang yang serius yang semua gerak-geriknya diatur protokol (bahkan konon, watuk dan bersinnya pun ditulis di agenda protokoler). Atau oleh ustad yang cakrawala ilmunya mahaluas. Tidak juga oleh pengusaha segala rupa berpenampilan santai yang ceplas-ceplos ngomongnya. Atau mantan jenderal kayaraya yang membagikan duitnya untuk pengelola TV.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Rakyat yang hobi nonton TV dan guyonan ini tentu lebih cocok dipimpin orang yang tipenya juga seperti itu. Olga sebetulnya masuk nominasi, tapi dia bisa tersandung isu gender (masih banyak laki-laki Indonesia yang ndak rela dipimpin perempuan).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Akhirnya, hanya dua kandidat yang sepertinya mumpuni untuk memimpin negeri ini di masa mendatang. Kalau ndak Jenderal Nagabonar, ya Tukul Arwahnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khayalankusaja.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khayalankusaja.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khayalankusaja.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khayalankusaja.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khayalankusaja.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khayalankusaja.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khayalankusaja.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khayalankusaja.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khayalankusaja.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khayalankusaja.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khayalankusaja.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khayalankusaja.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khayalankusaja.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khayalankusaja.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=48&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/03/01/nagabonar-atau-tukul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98b915f2f73ed78a3678bc53c69dc0f2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khayalankusaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca Surat Al-Ponari</title>
		<link>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/02/22/al-ponari-ayat-untuk-siapa/</link>
		<comments>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/02/22/al-ponari-ayat-untuk-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 05:45:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khayalankusaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Ponari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/02/22/al-ponari-ayat-untuk-siapa/</guid>
		<description><![CDATA[UDAH sebulan dukun sakti Ponari buka praktek. Sejak itu pula, sampai sekarang, berbagai pendapat masyarakat mengiringinya. Biasa, tradisi bangsa kita kalau ada isu2 hot, njuk grusa grusu. Dalam kasus ini ada dua model grusa grusunya … ada yang langsung percaya bahwa batu sakti Ponari bisa nyembuhin macam-macam penyakit, sehingga mereka berbondong-bondong naik pick up dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=40&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false          MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">UDAH sebulan dukun sakti Ponari buka praktek. Sejak itu pula, sampai sekarang, berbagai pendapat masyarakat mengiringinya. Biasa, tradisi bangsa kita kalau ada isu2 hot, njuk grusa grusu. Dalam kasus ini ada dua model grusa grusunya … ada yang langsung percaya bahwa batu sakti Ponari bisa nyembuhin macam-macam penyakit, sehingga mereka berbondong-bondong naik pick up dari desa untuk mendapat berkah batu Ponari. Ada juga yang seketika apriori, menuding-nuding Ponari sebagai biang kemusyrikan dan harus segera diberantas.</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ribuan orang yang berobat ke Ponari membawa segudang keyakinan bahwa Ponari dan wetu sektinya bisa menyembuhkan penyakit mereka, meski dengan biaya murah. Yang ndak kebagian kobokan Ponari dan batunya, mengambil jalan alternative. Ada yang ngorek-ngorek tanah dekat pembuangan kamar mandi Ponari. Ada juga yang lewat jalur belakang, minta air bekas mandinya Ponari. Mungkin nanti lama-lama ada yang niteni jejak kaki Ponari, lalu mengambil tanah bekas pijakannya itu untuk diraupkan ke muka sebagai media penyembuhan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-40"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berseberangan dengan itu, banyak juga orang yang menganggap kegiatan tersebut di atas tadi sebagai bentuk syirik. Mereka lalu mendesak pemerintah untuk menutup praktek kerja Ponari. Mereka ini orang-orang dengan kapasitas intelektual tinggi. Perilaku mereka ilmiah, sehingga sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, dianggap salah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebenernya siapa yang salah? Apakah Ponari yang ndak sengaja menemukan batu petir itu? Atau orang-orang yang percaya pada kesaktiannya? Atau mereka yang mengutuknya? Atau media yang jadi tim marketingnya Ponari? Kalau apa yang dilakukan Ponari adalah sebuah dosa, maka siap-siap saja media yang memasarkan produk Ponari ini ke seluruh Indonesia menerima bagian azab di akhirat nanti. Huhuu … raksakno! Rumangsamu penak dadi wartawan? (keluhan orang yang pernah jadi wartawan tapi keluar karena tekanan batin, hihiii).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya rasa bukan masalah siapa yang salah dan benar. Melainkan bagaimana kita memandang fenomena Ponari ini dengan mata hati (kamu punya mata hati po, Wan?!). Ya sudah, kalau gak punya mata hati, pakai mata kaki juga gakpapa …</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya termasuk pihak yang netral, bukan serious ataupun peter pan. Saya ndak menyalahkan orang-orang yang minta kesembuhan dari Ponari. Pun saya ndak memusuhi orang yang dengan niatan amar makruf nahi munkar menuntut praktek Ponari ditutup karena bisa merusak iman masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya cuma orang ganteng yang lebih suka bertanya pada hati nurani, kenapa Allah menampilkan sosok Ponari dalam episode kehidupan bangsa kita. Mengapa skenarionya, anak desa itu menemukan batu ajaib yang konon bisa menyembuhkan aneka penyakit? Kenapa kemudian banyak orang yang mempercayainya?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mungkin ponari adalah salah satu surah yang di dalamnya terdapat ayat-ayat Allah yang harus kita baca dengan lebih hati-hati. Al-Ponari ini kayaknya punya makna implisit yang harus digali kalau kita ingin memahaminya. Tentunya saya ndak punya kapasitas untuk urusan gali-menggali itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Cuma, kalau boleh (ya bolehlah Wan, orang ini blogmu kok, jadi suka-suka kamu mau nulis apa!) (oh iya ya …) saya mau bilang bahwa kadang-kadang saya merenung sendiri, kalau orang-orang yang percaya sama Ponari dan batu petirnya itu salah, emangnya apa bedanya saya sama mereka?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalo kepala saya lagi cekot-cekot, biasanya saya langsung beli Mix*grip di warungnya Om Edbul. Dari dulu saya selalu minum obat itu kalo lagi flu atau sakit kepala. Dan pasti sembuh. Makanya saya percaya tablet Mix*grip itu bisa menyembuhkan penyakit saya. Lalu apa bedanya tablet itu dengan batunya Ponari?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Beda dong Wan, obat itu kan udah diracik oleh tukang-tukang farmasi yang hebat dan diback-up dokter-dokter mantap, jadi bisa dibuktikan secara ilmiah bahwa obat itu bisa menyembuhkan penyakit. Beda dengan batu Ponari yang katanya cuma tersambar petir.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebenarnya masalahnya bukan itu. Yang jadi pertanyaan adalah: saat kita minum obat, apa yang ada di hati kita? Apakah “Ya Allah, Anda adalah Maha Penyembuh yang dengan media apapun bisa menyembuhkan penyakit hamba ini. Saya meminum obat ini sebagai ikhtiar hamba dan mempercayakan kesembuhan hanya pada Anda, bukan karena obat yang saya minum ini…” ataukah, “obat ini pasti bisa menyembuhkanku,” atau juga bersugesti “banyak yang cocok sama obat ini, semoga obat ini juga cocok sama aku dan bisa nyembuhin penyakitku.” Lalu dimana Allah kita tempatkan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Wahh, benar-benar di dalam Al-Ponari ini ada ayat-ayat dahsyat yang menyadarkan saya bahwa selama ini saya juga ndak kalah syiriknya sama mereka yang meminta kesembuhan dari Ponari dan batunya. Karena selama ini saya juga meminta kesembuhan dari dokter dan obat-obatan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan jangan dikira ayat Al-Ponari ini cuma berlaku untuk urusan kesehatan. Soal rezeki, jodoh, nasib, seringkali saya dan mungkin Anda-anda salah menempatkan posisi Allah. Atau bahkan tidak ada Allah sama sekali di dalam mekanisme berpikir kita?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Oleh sebab itu, Bismillahirrohmaniirrohiim … dengan menyebut nama Allah, mari kita baca surah Al-Ponari.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khayalankusaja.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khayalankusaja.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khayalankusaja.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khayalankusaja.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khayalankusaja.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khayalankusaja.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khayalankusaja.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khayalankusaja.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khayalankusaja.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khayalankusaja.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khayalankusaja.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khayalankusaja.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khayalankusaja.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khayalankusaja.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=40&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/02/22/al-ponari-ayat-untuk-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98b915f2f73ed78a3678bc53c69dc0f2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khayalankusaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Antara Mahakam-mahakam</title>
		<link>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/02/22/di-antara-mahakam-mahakam/</link>
		<comments>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/02/22/di-antara-mahakam-mahakam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 03:14:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khayalankusaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Remeh Temeh]]></category>
		<category><![CDATA[Mahakam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khayalankusaja.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, sore itu saya dapet sms dari rekan kerja saya (gayane pol!! biar dikira orang kantoran), bahwa ada klien yang mau diambil sampel sidik jarinya. Profesi saya tuh ngambilin sample sidik jari. Mantap kan? Semacam petugas forensik dari kepolisian sektor antah berantah. Waktu nerima sms itu saya lagi gak fokus, jadi bacanya sekilas info aja. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=34&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, sore itu saya dapet sms dari rekan kerja saya (gayane pol!! biar dikira orang kantoran), bahwa ada klien yang mau diambil sampel sidik jarinya. Profesi saya tuh ngambilin sample sidik jari. Mantap kan? Semacam petugas forensik dari kepolisian sektor antah berantah.</p>
<p><span id="more-34"></span></p>
<p>Waktu nerima sms itu saya lagi gak fokus, jadi bacanya sekilas info aja. Yang saya ingat, rumah klien yang saya harus datengi itu di sebuah komplek elite yang namanya ada kata-kata “Mahakam”nya.</p>
<p>Dengan penuh percaya diri dan gagah perkasa saya menunggangi montor supr* saya. Laju banget! Sekitar 50 km/jam. Hehee, soale biasanya kecepatan rata-rata saya naik motor tuh 40 aja. Sering-sering 20-30, terutama kalo cuaca lagi bagus (adem ayem gitu). Kan sayang kalo pemandangan sekitar perjalanan gak dinikmati. Nah, dengan kecepatan seperti itu saya meliuk-liuk melewati beberapa pengendara lain yang umumnya mbah-mbah. Kalo yang masih muda tentunya mereka lebih cepet naeknya motor daripada saya.</p>
<p>Saya ngelewatin jembatan mahakam yang legendaris itu, menuju samarinda seberang.  Sesampainya di tempat yang saya tuju, saya teleponlah rekan kerja saya itu. Saya tanya, rumahnya klien di blok apa? Blok F-* <!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false          MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]-->. (Biarpun jarang mandi, saya ini tetep profesional, gak sembarangan mengumbar alamat klien saya)</p>
<p>Pas saya mau cari alamat tersebut di atas, saya tiba-tiba sadar, di Samarinda komplek yang ada “mahakam”2x kan gak cuma satu. Lalu saya pastiin dengan membuka kembali sms beliau rekan kerja saya itu.</p>
<p>Lah dalah!! Ternyata saya salah alamat! Yang saya datengin ini komplek Pes*na Mahakam. Padahal alamat ibu klien itu di Gr*nd Mahakam. Akhirnya dengan perasaan dongkol sendiri saya berbalik arah, menyebrangi jembatan mahakam lagi. Kalau Anda dari arah samarinda seberang, menyeberangi jembatan mahakam, lalu belok kiri, Anda akan ketemu komplek pertokoan yang namanya Mahakam Sq*are. Lagi-lagi mahakam. Perusahaan tempat saya kerja ini juga namanya ada “mahakam”nya. Tapi saya gak mau sebutin, nanti bisa disepak bos saya. Intinya, banyak banget nama-nama berunsur “mahakam” di samarinda ini.</p>
<p>Kembali ke soal salah alamat tadi. Sepanjang perjalanan saya jadi mikir sambil kesel dalam hati : kenapa sih orang kaya yang bikin perumahan-perumahan elit itu gak kreatip soal nama. Kalo udah ada yang pake nama “mahakam” mbok ya jangan dipake lagi.  Mungkin mereka berharap usahanya itu lancar, besar, dan indah seperti sungai Mahakam. Padahal sungai mahakamnya sendiri bulukan, dekil kayak saya. Kan jadi gak matching sama makna filosofisnya tadi. Kenapa mereka gak pilih nama misalnya: Orangutan Mansion, atau Griya Ikan Pesut, atau Perumahan Amplang Permai. Semua itu kan juga ikon-nya Samarinda. Hhh  yang bego tuh sebenernya saya atau mereka sih?!</p>
<p>Ah, Anda semua pasti sirik dan menjawab dengan tegas tanpa keraguan sedikit pun di dalamnya: “Kamu yang bego’, Wan!!”  Nasiiib nasiiib …</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khayalankusaja.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khayalankusaja.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khayalankusaja.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khayalankusaja.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khayalankusaja.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khayalankusaja.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khayalankusaja.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khayalankusaja.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khayalankusaja.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khayalankusaja.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khayalankusaja.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khayalankusaja.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khayalankusaja.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khayalankusaja.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=34&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/02/22/di-antara-mahakam-mahakam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98b915f2f73ed78a3678bc53c69dc0f2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khayalankusaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Allah dan Slang-slang AC</title>
		<link>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/02/21/allah-dan-slang-slang-ac/</link>
		<comments>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/02/21/allah-dan-slang-slang-ac/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 03:05:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khayalankusaja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ruang Cak Nun]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khayalankusaja.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Aku ini kere yang sering memperoleh kesempatan untuk munggah mbale. Maksudku, karena dari hari ke hari hidupku hampir selalu di perjalanan dan berpindah-pindah tempat untuk memenuhi undangan-undangan – baik dari orang-orang yang benar-benar mempercayaiku, maupun dari orang-orang yang sekedar membutuhkanku namun diam-diam ngedumel di dalam hati mereka – maka terkadang aku diinapkan di hotel-hotel. Sesekali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=25&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Aku ini kere yang sering memperoleh kesempatan untuk munggah mbale. Maksudku, karena dari hari ke hari hidupku hampir selalu di perjalanan dan berpindah-pindah tempat untuk memenuhi undangan-undangan – baik dari orang-orang yang benar-benar mempercayaiku, maupun dari orang-orang yang sekedar membutuhkanku namun diam-diam ngedumel di dalam hati mereka – maka terkadang aku diinapkan di hotel-hotel.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-25"></span> Sesekali di hotel berbintang banyak. Saat lain di hotel sedengan. Terkadang di losmen, di mess, atau di rumah kosong yang tak ditempati karena si empunya tidak mungkin membagi punggungnya ditugel-tugel jadi banyak agar bisa menempati banyak rumahnya. Yang aku selalu merasa terancam adalah kalau ditidurkan di rumah orang, artinya di rumah yang dihuni oleh sebuah rumah tangga. Soalnya pasti tuan rumahku orang baik, selalu menjamu dan menghormati secara maksimal, menyediakan makan minum dan tempat tidur yang lebih dari layak. Kemudian kami harus dayoh-dayoh-an penuh sopan santun dan wajib penuh basa basi. Lantas sekitar jam 23.00 aku dipersilahkan tidur – dan inilah puncak ancaman bagiku. Mana mungkin aku tidur jam segitu sampai pagi. Aku tidak mampu menikmati tidur sebagai acara tidur. Maksudku, aku harus selalu bekerja keras sampai badanku tidak kuat dan lantas secara alamiah aku tidur. Aku tidak pernah akrab dengan ranjang dan kasur, sebab aku mendatanginya hanya ketika aku sudah sangat mengantuk dan kesadaranku tinggal lima watt. Tak mungkin aku bergaul intensif dengan siapapun dan dengan apapun hanya dengan bekal kesadaran lima watt.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukannya aku meremehkan tidur. Tidur itu sangat penting. Tetapi bagiku tidur itu bukan terutama merupakan mekanisme budaya atau kegiatan budaya dalam hidupmu. Tidur itu kegiatan alam. Pekerjaan natural. Itu keharusan atau sunnah dari Allah pada momentum tertentu setiap hari. Oleh karena itu sering aku heran kepada orang-orang yang begitu sibuk mengurusi ranjang, membeli kasur dengan segala keindahannya. Padahal kasur itu urusannya orang tidur. Dan tidur itu urusannya orang mengantuk. Dan kalau orang sudah dalam keadaan sangat mengantuk, ia hampir tidak perduli apakah yang di depannya itu kasur ataukah tikar. Oleh karena itu bagiku, tidur tidak perlu aku programkan dalam kebudayaan. Ia alamiah.</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan yang ingin kuajukan dalam tulisan hari ini adalah: apakah kesadaran dan pergaulan kita dengan Allah itu merupakan sesuatu yang engkau biarkan berlangsung alamiah, ataukah perlu engkau terjemahkan ke dalam rancangan-rancangan budaya? Termasuk di sini, berapa watt-kah kapasitas kesadaran dan pergaulan kita dengan Allah swt.?<br />
Itulah sebabnya di awal tulisan ini aku bercerita tentang hotel-hotel. Pada suatu senja bersama sejumlah kawan aku mencari mushallah di sebuah hotel besar internasional di Jakarta. Kami hendak maghriban bareng menjelang menghadiri pembukaan Pameran Lukisan Kaligrafi di hotel tsb.<br />
Kami berjalan menerobos bagian-bagian bawah dari hotel itu. Kami melewati lorong-lorong panjang dan berliku-liku. Akhirnya tiba di mushallah yang terletak sangat di pojok dan tersembunyi. Kalau sendiri, tak bisa kujamin aku akan bisa menemukannya.<br />
Seusai shalat, aku hendak berdoa macam-macam, yang mendadak yang bersuara dalam hatiku adalah keluhan, dan kuucapkan itu perlahan-lahan. “Ya Allah Kekasihku, apakah Engkau merasa sepi? Engkau di sembunyikan di sini, di pojok bawah. Engkau bukan sesuatu yang penting bagi rancangan dan konsep hotel yang mewah ini. Engkau tidak primer. Engkau tidak nomer satu. Engkau tidak disediakan tempat di etalase terpenting dari performance hotel ini. Ketika para arsitek membangun tempat ini, tak ada alokasi atau ingatan tentangMu, barangkali. Rumah atau mushallaMu ini tampaknya juga tidak sejak semula dibangun sebagai mushalla. RumahMu ini sekedar sebuah ruangan yang dipaksakan untuk dipakai sebagai tempat shalat, karena kebetulan banyak karyawan hotel ini yang beragama Islam. Ya Allah, apakah Engkau merasa kesepian? Tidak. Aku tahu Engkau tidak kesepian. Engkau tidak bersemayam hanya di mushalla ini. Engkau bisa aku jumpai di manapun. Aku bisa menghadapMu di bagian<br />
manapun dari hotel ini. Tetapi yang kutangiskan adalah kenapa Engkau begitu tidak dianggap penting, bahkan mungkin dianggap tidak ada, oleh mereka yang membangun dan menikmati gedung-gedung di muka bumiMu. Padahal tanah ini tanahMu. Material apapun yang dipakai untuk membangun hotel ini adalah milikMu. Juga semuanya, apa saja dan siapa saja yang menghuni dan lalu lalang di gedung ini, adalah sematamata Engkau yang menciptakan dan Engkau yang menganugerahkan kepada mereka segala jenis rizqi dan kekayaanMu…”<br />
Itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Seusai shalat aku berlari mencari telpon dan kuhubungi saudara-saudaraku di Jombang. Spontan aku katakan: “Malam ini juga cari empat orang yang sangat miskin tapi yang akhlaqnya baik. Kasih tahukan dan pandulah mereka untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk naik haji. Uang ONH saya kirim besok pagi”.</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin aku agak sentimental dengan keluhan semacam ini. Semestinya aku juga bisa berpikir bahwa kultur hotel-hotel yang berlaku adalah memang produk dari peradaban sekular abad 20. Tetapi aku tidak juga bisa menganggap bahwa budaya hotel dari kosmos industri dan kapitalisme sekular ini tidak memiliki sentuhan religius, karena hampir selalu bisa kujumpai The Holly Bible di laci meja kamar-kamarnya.<br />
Harus kita akui bahwa juga ada hotel-hotel yang menyediakan Kitab Al-Quran serta tulisan petunjuk kiblat di atap kamar. Bahkan kini sudah pula berdiri beberapa hotel yang segala sesuatunya dirancang untuk suatu mekanisme kehidupan yang Islami. Segala sesuatu dalam kebudayaan ummat manusia memang terus berkembang ke berbagai arah. Semuanya sedang terus melakukan tawar-menawar dengan ragam nilai-nilai.<br />
Di atas semua itu aku tetap bersyukur. Meskipun di berbagai hotel berbintang engkau jumpai mushalla hanya bersifat darurat di pojok-pojok, di basement, bahkan di ruang-ruang bawah tanah di mana kalau kita shalat di atas kita terdapat slang-slang AC bersilang-silang, sehingga terasa Allah sebegitu dimarginalisir – kuanjurkan engkau tetap bersyukur. Karena hikmah, karomah dan mashlahah disediakan olehNya di segala macam tempat.<br />
Jum’at kemarin aku tinggal di sebuah hotel milik seorang menteri yang namanya memakai idiom dari Quran, yang rekruitmen karyawan-karyawannya juga mengutamakan yang beragama Islam. Tapi tempat jum’atannya adalah di pojok tempat parkir, yang ruangnya sangat sempit, sehingga para jamaah tumpah keluar, dan kami mendengarkan khutbah campur mobil yang berseliweran. Ketika naik ke kamar, kubuka laci, kujumpai Bible, dan aku bergumam: “Kalau memang yang dimaksud kebudayaan modern adalah aktualisasi demokrasi, mestinya tidak banyak biaya untuk juga membeli Qur’an, Bagavadgita, syukur kitab asli Zabur, Taurat dan Injil.  (Emha Ainun Nadjib)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khayalankusaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khayalankusaja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khayalankusaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khayalankusaja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khayalankusaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khayalankusaja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khayalankusaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khayalankusaja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khayalankusaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khayalankusaja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khayalankusaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khayalankusaja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khayalankusaja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khayalankusaja.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khayalankusaja.wordpress.com&amp;blog=6618542&amp;post=25&amp;subd=khayalankusaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khayalankusaja.wordpress.com/2009/02/21/allah-dan-slang-slang-ac/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/98b915f2f73ed78a3678bc53c69dc0f2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khayalankusaja</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
